kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45801,69   11,79   1.49%
  • EMAS1.048.000 1,85%
  • RD.SAHAM 0.64%
  • RD.CAMPURAN -0.07%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Ada Optimisme di Balik Tantangan Realisasi PLTA Kayan Cascade


Sabtu, 04 Juli 2020 / 14:46 WIB
Ada Optimisme di Balik Tantangan Realisasi PLTA Kayan Cascade
ILUSTRASI. Kontan - PT Kayan Hydro Energy Native Online

KONTAN.CO.ID - Impian memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) terbesar di Asia Tenggara bukanlah kemustahilan. Meskipun perlu melalui perjalanan panjang, rencana pembangunan PLTA Kayan Cascade --yang diprakarsai PT Kayan Hydro Energy (KHE)-- di Sungai Kayan, Kalimantan Utara (Kaltara) dapat segera terwujud.

Kalau lima bendungan di Sungai Kayan semuanya selesai dibangun, PLTA itu siap menyediakan listrik hingga 9.000 Megawatt (MW). Rencananya, Kayan 1 dan Kayan 2 selesai dibangun tahun 2025 dan dilanjutkan membangun bendungan 3, 4, dan 5 yang ditargetkan selesai semua di tahun 2029.

Sejumlah tantangan perlu dihadapi KHE untuk bisa mewujdukan itu semua. Baik dari segi geografis, birokrasi, investasi, hingga pengerjaan PLTA itu sendiri.

 

Lima tantangan

Tantangan pertama bisa bermula dari investasi. Nilai untuk pengerjaan pembangunan lima PLTA, mulai dari riset dan survei, hingga pembangunan kawasan terpadu bisa mencapai lebih dari 70 miliar dollar AS. Hal ini dituturkan oleh Direktur Operasional Kayan Hydro Energy (KHE) Khaeroni.

Tantangan kedua mengenai proses survei lokasi, riset, dan desain bangunan bendungan PLTA. PT KHE menggandeng perusahaan dari China yang sudah berpengalaman membangun bendungan dengan biaya efisien tapi memiliki daya dukung infrastruktur yang kuat.

Khaeroni menjelaskan, proses untuk riset bisa memakan waktu hingga 10 tahun karena untuk pembangunan sebuah bendungan, pertimbangannya kompleks. Tidak hanya aspek geografi, topografi, ekologi, tetapi harus diperhitungkan imbas kepada aspek ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

“Misalnya, untuk riset pada satu titik bendungan, penyebaran riset lainnya bisa berkaitan dengan beberapa titik. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan,” kata Khaeroni. 

Tantangan ketiga adalah terkait dengan perizinan lokasi pembangunan PLTA di Sungai Kayan, izin mengenai dampak lingkungan (AMDAL), izin Environmental Social Impact Assesment (ESIA), izin pengusahaan dan penggunaan sumber daya air, izin konstruksi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR). Pada prinsipnya, seluruh perizinan sudah hampir rampung dan KHE terus melakukan kegiatan di lapangan.

Dalam satu dekade belakangan ini, KHE sudah menjalankan prosedur untuk memperoleh perizinan. Hasil kajian, laporan data, riset, dan persyaratan lainnya telah disampaikan. Perizinan sudah didapatkan sehingga realisasi pembangunan bendungan di Kaltara bisa segera dilaksanakan.

Rencana pembangunan PLTA di Kaltara ini juga mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah. Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie menyatakan dukungannya atas pembangunan bendungan PLTA, karena melihat potensinya di masa depan sebagai pendongkrak aktivitas ekonomi di Kaltara.

Tantangan keempat terkait dengan kondisi geografi dan insfrastruktur. Untuk membangun bendungan PLTA di Sungai Kayan, diperlukan infrastruktur jalan untuk mengangkut alat-alat berat. Akses jalan sepanjang 20 kilometer perlu dibangun. Tidak hanya itu saja, sejumlah sungai perlu sebagian dikeruk untuk pendalaman alur. Selain infrastruktur jalan, mobilisasi alat berat dilakukan melalui Sungai Kayan.   

Tantangan kelima adalah pandemik Covid-19 yang tidak terduga. Pengerjaan bendungan PLTA pertama di Kaltara terpaksa ditunda, dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan kesehatan para pekerja. Jika Covid-19 mereda, pengerjaan bendungan untuk PLTA kembali dilanjutkan. Namun bukan berarti selama ini juga tidak ada kegiatan sama sekali. Khaeroni menjelaskan, pembangunan infrastruktur akan tetap berjalan. Dengan catatan, prosedur keamanan kesehatan diperketat dan perlindungan pada para pekerja akan menjadi perhatian.

“Asal mempunyai keyakinan, kita pasti bisa merealisasikan PLTA di Kaltara ini,” pungkas Khaeroni.

Pembangunan lima PLTA di Kaltara masih akan terus berlangsung ke depan. Pelaksanaan pembangunan bendungan ini tidak akan terhenti, terlebih bila melihat berbagai pihak dari dunia industri tengah melirik Kaltara sebagai salah satu calon nadi perekonomian baru di wilayah tengah Indonesia.


Reporter: Native Team
Editor: Ridwal Prima Gozal
Tag

TERBARU

×