kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,67   6,06   0.79%
  • EMAS876.000 -1,35%
  • RD.SAHAM -0.17%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.12%

Alasan Mengapa Vape Bisa Jadi ‘Jembatan’ Sebelum Berhenti Merokok


Rabu, 01 April 2020 / 21:59 WIB
Alasan Mengapa Vape Bisa Jadi ‘Jembatan’ Sebelum Berhenti Merokok

Vape atau rokok elektrik, digadang-gadang bisa menjadi ‘jalan keluar’ bagi mereka yang mengalami kebuntuan saat mencoba berhenti merokok. Berbasis pada sejumlah penelitian, Inggris bahkan mengizinkan vape lantaran dianggap menjadi alternatif bagi mereka yang kesulitan menyetop kebiasaan merokok.

Uji coba klinis National Institute for Health Research (NIHR) menunjukkan, pada layanan berhenti merokok, vape dua kali lebih efektif membantu perokok untuk berhenti dibandingkan terapi pengganti nikotin (NRT). Laporan yang terbit April 2019 ini melibatkan hampir 900 partisipan.

Studi terpisah University College London (UCL) menunjukkan, vape membantu lebih 50 ribu perokok berhenti setiap tahunnya.

Kendati, penggunaan vape tak berarti tanpa risiko. Karena itu, bagi Anda yang sama sekali belum pernah merokok pun tak disarankan mencoba vape.

Tapi setidak-tidaknya, bila dibandingkan rokok konvensional, risiko penggunaan vape lebih kecil. Temuan ini pernah dipublikasikan pada 2018 oleh US National Academies of Sciences, Engineering and Medicine (NASEM).

Sementara Public Health England pada 2015 melaporkan, meskipun vaping tidak 100 persen aman namun mayoritas bahan kimia yang biasa ditemui pada rokok dan mengakibatkan penyakit, tak ada dalam vape. Meski, masih perlu banyak penelitian untuk menyokong argumen ini.

Survei lain menemukan, empat dari sepuluh perokok dan mantan perokok keliru mengira bahwa nikotin merupakan penyebab utama kanker. Padahal bukti memperlihatkan, nikotin memberikan risiko yang minimal bagi kesehatan. Bahwa zat ini jadi alasan orang menjadi pecandu rokok, itu betul. Namun ada bahan-bahan kimia lain dari asap rokok yang membahayakan.

Itu sebab bulan lalu PHE ditugaskan menyusun laporan akhir mengenai perkembangan rokok elektronik. Gabungan tim penulis dan pakar internasional tengah menggarap studi yang meliputi pelbagai sisi dan penilaian secara otoritatif bakal dilakukan pada 2022 mendatang.

Sebuah studi juga sempat menghubungkan antara vaping dengan penyakit kardiovaskular. Kajian ini menjadi kontroversial dan lantas ditarik oleh penelitinya. Awalnya, studi menjelaskan bahwa orang yang menggunakan vape memiliki risiko penyakit jantung yang sama dengan perokok. Tapi jurnal ini kemudian dicabut karena tak mempertimbangkan hampir seluruh vapers adalah perokok aktif atau mantan perokok.

Perbedaan lain, jika rokok konvensional menyimpan risiko bagi orang yang tak merokok, vape tak demikian. Ini terbukti dari kebijakan pemerintah Inggris mengenai larangan merokok di ruang publik atau lokasi kerja. Tapi hal serupa tak diterapkan untuk vape.

Cairan rokok elektrik umumnya terdiri atas nikotin, propilen glikol, gliserin serta perisa. Berbeda dengan rokok konvensional, rokok elektronik tak menghasilkan asap melainkan aerosol.

Laporan pada 2018 mengungkap, tak ada risiko kesehatan yang teridentifikasi pada orang-orang di sekeliling vapers. Tapi laporan ini akan diperbarui pada 2022 lantaran PHE meminta pengidap asma dan gangguan pernapasan turut dipertimbangkan.


Reporter: Tim KONTAN
Editor: indah sulistyorini

TERBARU

×