KONTAN.CO.ID - Di tengah ramainya pembahasan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan energi hijau, ada isu lain yang menggugah, yaitu demografi. Indonesia, dengan penduduk sekitar 290 juta jiwa pada 2026, punya tantangan dan peluang dalam memanfaatkan jumlah penduduk.
Melimpahnya jumlah penduduk usia produktif yang digadang-gadang sebagai "bonus demografi" rupanya belum otomatis menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Alih-alih menjadi garansi percepatan, dominasi populasi ini dinilai baru sekadar "modal" yang belum dimanfaatkan optimal.
Data menunjukkan tren positif di pasar kerja Indonesia. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk bekerja pada Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang, naik 522 ribu dibandingkan Februari 2026. Periode sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat 4,65%, turun 0,03 persen poin.
Namun, di balik sinyal penguatan tersebut, ketersediaan lapangan pekerjaan masih menjadi tantangan. Masyarakat dari berbagai kelompok usia, baik produktif maupun non-produktif, masih membutuhkan pekerjaan untuk menopang perekonomian rumah tangga.
Fenomena ketidaksesuaian atau mismatch antara jenjang pendidikan dan ketersediaan pekerjaan juga makin melebar. Banyak tenaga kerja terdidik yang sulit terserap. Angka pengangguran usia produktif masih mendominasi keluhan pasar tenaga kerja dalam negeri.
Kepala Lembaga Demografi FEB Universitas Indonesia I Gede Dewa Karma Wisana mengingatkan, Indonesia menghadapi risiko besar karena produktivitas pekerja kita masih relatif tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya.
Pekerjaan di sektor informal yang berupah rendah dan minim perlindungan juga masih sangat mendominasi. Tanpa adanya perluasan lapangan kerja formal, peningkatan keterampilan yang relevan dengan industri, serta jaminan tabungan hari tua, modal demografi ini justru berpotensi berbalik menjadi beban ketergantungan di masa depan.
“Struktur umur penduduk Indonesia yang saat ini didominasi oleh penduduk muda memberi kita modal. Tapi modal tersebut baru ada hasilnya jika dipekerjakan secara produktif dan mampu menabung atau berinvestasi. Nah, kedua syarat tersebut yang belum terpenuhi,” ujar Dewa kepada Kontan, Senin (17/9).
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa bonus demografi bukan sekadar tentang banyaknya usia produktif. Tetapi bagaimana potensi tersebut dapat ditransformasi menjadi kekuatan ekonomi. Peningkatan lapangan pekerjaan yang diimbangi dengan penguatan kompetensi akan membuahkan generasi produktif yang adaptif, sesuai dinamika perubahan zaman.
Dinamika ekonomi dan perubahan demografi membawa tantangan sekaligus peluang yang berbeda bagi setiap generasi. Oleh karena itu, membangun ketahanan ekonomi Indonesia membutuhkan perspektif yang menyeluruh serta kolaborasi lintas generasi.
Sejalan dengan komitmen Kontan selama tiga dekade menemani masyarakat Indonesia dalam memahami dan mengarungi dinamika ekonomi nasional, Kontan menghadirkan ruang untuk mempertemukan pemikiran, pengalaman, dan perspektif dari berbagai kalangan dalam melihat arah ekonomi Indonesia ke depan.
KONTAN mempersembahkan Kontan Economic & Demographic Forum 2026 bertema “Navigating the Economy Across Generations”, yang akan berlangsung pada Selasa, 29 September 2026 di Studio 1 Kompas TV, Menara Kompas, Jakarta.
Forum ekonomi ini akan menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai bidang. Mulai dari Menteri Keuangan Republik Indonesia Suahasil Nazara, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu, Co-Founder & Executive Director Synergy Policies Dinna Prapto Raharja, Kepala Lembaga Demografi FEB Universitas Indonesia I Dewa Gede Karma Wisana, Komisaris Utama & Group CEO Mayapada Healthcare Jonathan Tahir, Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja, hingga Co-Founder & CEO Se’Indonesia Rinaldi Dharma Utama.
Digelar khusus dalam rangka menyambut HUT KONTAN ke-30, Kontan Economic & Demographic Forum 2026 menjadi wadah diskusi interaktif dan solutif untuk membahas tantangan dan peluang ekonomi lintas generasi.
Bagaimana menyelaraskan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri? Strategi apa yang paling tepat untuk mendongkrak produktivitas dan daya saing tenaga kerja? Bagaimana memastikan bonus demografi benar-benar menjadi kekuatan bagi perekonomian Indonesia?
Sebab, demografi bukan hanya tentang berapa banyak penduduk usia produktif yang dimiliki Indonesia, tetapi bagaimana potensi tersebut dapat ditransformasi menjadi produktivitas, kesejahteraan, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Kini, saatnya melihat demografi bukan sekadar sebagai angka, tetapi sebagai kekuatan untuk menentukan arah ekonomi Indonesia di masa depan.
Ingin ikut menyimak dan berdiskusi langsung mengenai masa depan ekonomi Indonesia? Jadilah bagian dari Kontan Economic & Demographic Forum 2026. Daftar sebagai peserta melalui economicforum.kontan.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Editor: Indah Sulistyorini














