kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.844.000   -183.000   -6,05%
  • USD/IDR 16.785   -38,00   -0,23%
  • IDX 8.038   115,67   1,46%
  • KOMPAS100 1.124   16,54   1,49%
  • LQ45 816   9,98   1,24%
  • ISSI 285   6,93   2,49%
  • IDX30 427   5,94   1,41%
  • IDXHIDIV20 512   6,85   1,36%
  • IDX80 125   1,91   1,55%
  • IDXV30 140   4,20   3,10%
  • IDXQ30 139   1,31   0,96%

Dukung Perkembangan Industri, Bursa Kripto CFX Turunkan Biaya Transaksi 50%


Selasa, 03 Februari 2026 / 13:11 WIB
Dukung Perkembangan Industri, Bursa Kripto CFX Turunkan Biaya Transaksi 50%
ILUSTRASI. Kontan - PT CFX Native Online (DOK/PT CFX)

KONTAN.CO.ID - PT Central Finansial X (CFX), bursa aset kripto pertama yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menekankan pentingnya dukungan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat posisi Indonesia di persaingan industri aset kripto global.

Dukungan ini menjadi krusial untuk meningkatkan jumlah konsumen yang pada gilirannya juga akan berdampak pada ekonomi nasional.

Di sisi lain, struktur biaya transaksi yang kurang kompetitif saat ini memicu kekhawatiran karena konsumen Indonesia yang sangat sensitif terhadap harga cenderung beralih ke platform offshore tidak berizin demi biaya yang lebih rendah.

Berdasarkan studi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), volume perdagangan konsumen Indonesia melalui platform offshore tidak berizin mencapai 2,6 kali lipat lebih besar dibandingkan platform berizin di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang perlu dioptimalkan agar industri aset kripto nasional memiliki daya saing.

Permasalahan tersebut menjadi sorotan utama dalam CFX Cryptalk di CFX Tower (02/02/2026). Bursa Kripto CFX menyelenggarakan forum ini sebagai upaya meningkatkan daya saing ekosistem aset kripto nasional terhadap industri aset kripto global, khususnya pada aspek struktur biaya transaksi, serta mengeksplorasi potensi solusi untuk menjadikan pasar domestik semakin atraktif.

Dalam CFX Cryptalk edisi perdana tersebut, turut hadir Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD) OJK, Djoko Kurnijanto; Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK periode 2017–2022 dan saat ini menjabat sebagai Komisaris Bursa Kripto CFX, Hoesen; Direktur Utama Bursa Kripto CFX, Subani; dan Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), Robby.

"Aspek regulasi dan pengawasan oleh otoritas, serta dukungan ekosistem perdagangan aset keuangan digital yang telah terbentuk, dapat menjadi pondasi penting dalam meningkatkan daya saing sektor aset keuangan digital Indonesia di tingkat global,” ujar Djoko Kurnijanto saat mengisi sesi diskusi CFX Cryptalk.

Direktur Utama Bursa Kripto CFX Subani menyebutkan tingginya biaya transaksi antara platform pedagang yang berizin resmi dari OJK dibandingkan dengan platform offshore tidak berizin telah memicu capital outflow yang signifikan. Untuk menarik pasar ini, Indonesia memerlukan insentif yang lebih kompetitif.

“Saat ini masih ada ketimpangan biaya transaksi yang cukup terasa antara platform dalam negeri dan global, inilah yang sering kali membuat pengguna kita menoleh ke luar. Kunci untuk menarik kembali minat konsumen lokal adalah dengan menciptakan struktur biaya yang lebih kompetitif," jelas Subani.

Ketua ABI, Robby, turut menegaskan pentingnya strategi untuk menahan minat konsumen agar tidak beralih ke platform asing. “Biaya transaksi yang lebih kompetitif dibutuhkan pedagang untuk meningkatkan volume transaksinya. Penurunan biaya menjadi insentif bagi para konsumen di Indonesia, sehingga mereka lebih aktif bertransaksi di PAKD dan tidak lagi bertransaksi di luar negeri,” tambah Robby.

Di akhir diskusi, sebagai upaya Bursa Kripto CFX membuat pasar Indonesia lebih kompetitif, Subani menyatakan pihaknya berinisiatif untuk mengurangi biaya transaksi bursa yang berlaku secara bertahap. Saat ini biaya transaksi bursa adalah 0,04% per transaksi. Subani mengatakan biaya tersebut akan turun menjadi 0,02% pada 1 Maret 2026, lalu berlanjut menjadi 0,01% pada 1 Oktober 2026 .

"Bursa mendengar apa yang menjadi perhatian bagi konsumen dan PAKD. Dengan biaya transaksi yang lebih kompetitif, kita sedang membangun pangsa pasar yang lebih besar. Bila biaya transaksi di PAKD lokal semakin kompetitif, kita optimistis menarik kembali konsumen yang bertransaksi di platform offshore tidak berizin sehingga dapat memberikan dampak pada perekonomian nasional, melalui penambahan pendapatan negara termasuk pajak," ujar Subani.

Menanggapi penurunan biaya transaksi bursa, Robby menyebutkan penurunan akan memiliki efek yang positif untuk konsumen di Indonesia. “Biaya yang lebih kompetitif membuat konsumen lebih aktif bertransaksi, sehingga mereka tidak lagi menggunakan platform offshore tidak berizin. Saya mewakili asosiasi berterima kasih kepada Bursa Kripto CFX, karena dengan hadirnya biaya bursa yang lebih kompetitif bisa memberikan kenyamanan bagi pengguna untuk bertransaksi,” tutup Robby.

Ke depannya, CFX Cryptalk diharapkan bisa menjadi forum yang mempertemukan perspektif regulator dan bursa untuk membahas arah penguatan daya saing industri aset kripto nasional secara komprehensif, sekaligus merumuskan pandangan bersama dalam membangun ekosistem perdagangan yang efisien, likuid, berintegritas, dan semakin menarik bagi investor global.

Selanjutnya: 4 Perusahaan Ajukan Keberatan Pencabutan Izin, Hashim: Prabowo Tak Mau Salah Hukum

Menarik Dibaca: Bunga Kompetitif, ORI029 Alternatif Diversifikasi di tengah Volatilitas Pasar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Reporter: Native Team
Editor: Ridwal Prima Gozal

TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

×