kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,67   6,06   0.79%
  • EMAS876.000 -1,35%
  • RD.SAHAM -0.17%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.12%

Era Ekonomi Digital Meningkat Pesat, Siapkah Indonesia Menghadapinya?


Selasa, 21 Januari 2020 / 18:53 WIB
 Era Ekonomi Digital Meningkat Pesat, Siapkah Indonesia Menghadapinya?

KONTAN.CO.ID - Ketika tiba saatnya un­tuk memilih program studi di sekolah, sis­wa SMK Negeri Cibinong, Iqbal, mengambil keputusan dengan hati-hati. Dia tidak yakin apakah kurikulum saat ini akan membuatnya mendapat pekerjaan yang tetap.

“Jenis pekerjaan yang teman-teman saya seka­rang kerjakan tidak sesuai dengan bidang studi yang telah mereka ambil,” ung­kapnya.

Iqbal hidup pada masa di­namis di Indonesia, ketika negara ini menuju masa ke­emasan di era digital yang membutuhkan pekerja de­ngan keterampilan digital, seperti keamanan siber. Na­mun Indonesia juga meng­hadapi kekurangan tenaga kerja terampil yang dapat menghambat pertumbuhan industri teknologi. Hal ini berpotensi membuat Indo­nesia kehilangan pemasuk­an sekitar USD 21,8 miliar dengan kurs saat ini.

Sebagai jawaban, pe­ngembangan sumber daya manusia yang terampil se­cara digital akan menjadi bagian yang terintegrasi dari target Presiden Joko Widodo untuk lima tahun ke depan, dengan tujuan tenaga kerja pada generasi baru ini sudah dilengkapi keterampilannya untuk ber­partisipasi secara inklusif dan setara dalam bidang ekonomi digital.

Sejalan dengan tujuan Presiden Jokowi, Master­card telah meluncurkan Mastercard Academy 2.0, sebuah prakarsa yang di­rancang khusus yang akan membantu masyarakat In­donesia seperti Iqbal untuk mendapatkan keterampilan digital selama tiga tahun ke depan.

Pada tahun 2022, Master­card Academy 2.0 menar­getkan untuk membekali 100.000 orang Indonesia yang terdiri dari anak-anak sekolah, remaja, pengusaha dan para profesional yang tengah berada di level me­nengah dalam karir di Indo­nesia dengan keterampilan digital yang mereka butuh­kan. Mereka diharapkan bukan hanya dapat berpar­tisipasi aktif dalam perja­lanan transformasi digital Indonesia, tetapi juga untuk berkembang di dalamnya.

Untuk memaksimalkan dampak dari program Mastercard Academy 2.0, Mastercard akan berkola­borasi dengan organisasi-organisasi pendidikan ter­kemuka di Indonesia untuk menyesuaikan kurikulum pendidikan dan sertifikasi dengan kebutuhan masya­rakat Indonesia. Organisa­si-organisasi ini antara lain Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Foundation, se­buah organisasi LSM yang memiliki pengalaman ber­tahun-tahun dalam membe­rikan lokakarya pendidikan khusus untuk kaum muda yang kurang beruntung dan rentan, dan InfraDigital Foundation, lembaga terke­muka yang berfokus pada pendidikan digital.

Mastercard Academy 2.0 memiliki empat pilar yang membentang di berbagai segmen, memungkinkan peserta untuk memperoleh keterampilan untuk berha­sil dalam era digital yang semakin meningkat. Keem­pat pilar tersebut adalah Girls4Tech, program serti­fikasi keamanan siber dan penempatan kerja untuk siswa kejuruan, program toolkit keamanan siber, dan rangkaian acara bin­cang-bincang dengan pakar digital.

 

Pondasi Pendidikan yang Kuat

Sistem pembayaran me­mainkan peran penting dalam ekosistem digital, karena mereka menyokong segala sesuatu mulai dari e-commerce, moda transpor­tasi hingga aplikasi seluler, dan relevansinya akan terus bergerak maju ke depan. Infrastruktur pembayaran digital akan membutuhkan pengembangan dan pening­katan yang berkelanjutan pada tahun mendatang, untuk menjaga proses pem­bayaran yang aman dan efisien.

"Lembaga keuanganlah yang telah memberikan banyak dorongan untuk ke­majuan di bidang keamanan siber," kata Ian McKenna, salah satu pendiri InfraDi­gital Foundation.

"Untuk membangun in­frastruktur pembayaran digital, kami memiliki ko­mitmen bersama untuk me­ningkatkan keterampilan siswa kejuruan dan meme­nuhi tujuan pembangunan Indonesia."

Progam sertifikasi ke­amanan siber dan penem­patan kerja untuk program siswa kejuruan yang dilun­curkan bersama oleh In­fraDigital Foundation dan Mastercard telah menerima dukungan dari sejumlah pemangku kepentingan di sektor pendidikan, terma­suk Pemerintah Provinsi Jawa Barat Divisi Peng­awasan dan Evaluasi dan Kantor Pendidikan Provinsi Jawa Barat Divisi Jaminan Kualitas dan Btech.

Prakarsa ini bertujuan tidak hanya untuk mening­katkan keterampilan siswa tetapi juga untuk membantu mereka untuk menemukan pekerjaan untuk memulai karir mereka. Menurutnya siswa yang berpartisipasi akan dilatih untuk men­dapatkan keterampilan keamanan siber yang siap kerja dan memiliki etika kerja yang baik, contohnya seperti cara bekerja dalam sebuah tim dan lain-lain.

“Melalui pendekatan kola­boratif inilah kami bertuju­an untuk memberikan sum­ber daya yang dibutuhkan sekolah-sekolah kejuruan (SMK) dan guru mereka untuk membuat program ini berkembang dan mendapat hasil positif dari para peser­ta. Di akhir program, para siswa akan mendapatkan sertifikasi internasional untuk pelatihan keamanan siber dan juga penempatan kerja,” katanya.

Proyek percontohan pelatihan keamanan siber menargetkan SMK dan guru-gurunya, program ini menyediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk di­integrasikan ke dalam kuri­kulum pendidikan. Program ini akan melibatkan 500 siswa SMK dan sekitar 200 guru dan akan berlangsung selama tiga tahun dengan total target 6.000 peserta.

"Bantuan praktis dan di lapangan ini akan digabung­kan dengan dukungan inter­nasional dari Per Scholas yang berbasis di Amerika Serikat. Per Scholas adalah sebuah organisasi dengan rekam jejak pelatihan dan penempatan lulusan dengan penghasilan rendah dalam kemanan siber," kata Ian.

Ian mencatat bahwa as­pirasi siswa telah berubah belakangan ini. “Siswa-siswa ini telah mengubah tujuan mereka dari menjadi karyawan setelah lulus dari sekolah SMK menjadi wira­usahawan,” katanya.

 

STEM yang menyenangkan dan interaktif untuk generasi yang akan datang

Mastercard Academy 2.0 juga berfokus pada anak-anak perempuan berusia 8 hingga 12 tahun.

“Mengikuti kelas Girls4Tech akan membantu saya mempe­lajari cara memecahkan kode sehingga saya bisa menjaga orang-orang tetap aman saat online,” kata Nova Sari, pe­serta berusia 14 tahun dalam program tersebut.

Program Girls4Tech Mas­tercard adalah prakarsa berkelanjutan yang telah diluncurkan di 28 negara. Di Indonesia, Mastercard akan bekerja dengan para pemangku kepentingan ter­masuk Kementerian Pendi­dikan dan Kebudayaan, Ke­menterian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindung­an Anak (PPPA), pejabat sekolah dan masih banyak lagi untuk memperkenalkan kurikulum Girls4Tech kepa­da anak-anak perempuan di negara ini.

“Selama tiga tahun ke depan, YCAB Foundation akan memberikan program Girls4Tech di tiga provinsi (Jawa Barat, Jawa Timur dan Banten) kepada 60.000 anak perempuan yang diha­rapkan juga akan memiliki dampak positif secara tidak langsung kepada 240.000 guru, orang tua, dan sauda­ra kandung mereka,” kata CEO and Founder of YCAB Foundation, Veronica Co­londam.

Program ini memungkin­kan anak perempuan seper­ti Nova untuk menempuh pendidikan STEM dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Menurut Ve­ronica hal ini memberi pe­luang bagi anak perempuan untuk lebih unggul dalam mata pelajaran STEM yang dapat membuat keadaan ekonomi mereka akan menjadi lebih baik karena pengetahuan STEM adalah dasar untuk akses ke pe­kerjaan di bidang teknologi pembayaran digital yang semakin canggih.

“Ketika Indonesia mema­suki revolusi Industri 4.0, sangat penting untuk me­nutup kesenjangan gender. Perkembangan teknologi di masa depan akan berlang­sung dengan sangat cepat, dan kami membutuhkan tenaga kerja yang inklusif untuk mendukung inovasi dengan bakat dan sumber daya intelektual yang dibu­tuhkan," tambah Veronica.

Kemitraan seperti mereka yang terlibat dengan Mas­tercard Academy 2.0 akan berperan penting dalam membantu masa depan di­gital yang sesungguhnya di Indonesia.


Reporter: Adv Team
Editor: Ridwal Prima Gozal
Tag

TERBARU

×