kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.595.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 17.885   -103,00   -0,57%
  • IDX 6.120   -1,74   -0,03%
  • KOMPAS100 793   -0,59   -0,07%
  • LQ45 607   -1,04   -0,17%
  • ISSI 212   0,62   0,29%
  • IDX30 336   -0,93   -0,27%
  • IDXHIDIV20 428   1,58   0,37%
  • IDX80 91   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 116   0,63   0,55%
  • IDXQ30 110   0,09   0,08%

Lestarikan Budaya Kudus, Pagelaran Kolosal Tari Lajur Caping Kalo Catat Rekor MURI


Rabu, 30 September 2026 / 10:40 WIB
Lestarikan Budaya Kudus, Pagelaran Kolosal Tari Lajur Caping Kalo Catat Rekor MURI
ILUSTRASI. Kontan - PT. NOJORONO TOBACCO INTERNATIONAL Native Online (Dok. PT NOJORONO TOBACCO INTERNATIONAL/PT NOJORONO TOBACCO INTERNATIONAL)

KONTAN.CO.ID - Pagelaran kolosal Tari Lajur Caping Kalo di Pendopo Kabupaten Kudus pada Sabtu (26/9) menyemarakkan perayaan HUT Kota Kudus ke-477. Sebanyak 670 penari berpartisipasi dalam perhelatan ini untuk dicatat dalam kategori penampil Tari Lajur Caping Kalo terbanyak Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kembali Caping Kalo sebagai salah satu warisan budaya khas Kudus. Caping Kalo merupakan penutup kepala perempuan yang menjadi bagian dari busana adat Kudus. Seiring berkurangnya jumlah perajin yang masih menekuni keterampilan menganyam bambu, keberadaan Caping Kalo semakin jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan lebih banyak hadir dalam kegiatan budaya maupun seremonial.

Berangkat dari kondisi tersebut, Yayasan Kagama Bhakti Nusantara (YKBN) bersama Nojorono Kudus sejak tahun 2022 mulai menggali dan mendokumentasikan kembali sejarah serta nilai budaya Caping Kalo. Dari proses observasi dan penelaahan nilai historis Caping Kalo yang panjang, lahir pemahaman bahwa menjaga Caping Kalo tidak cukup dilakukan dengan merekam ceritanya, tetapi juga menghadirkannya kembali di tengah masyarakat.

Salah satu ikhtiar yang kemudian berkembang adalah Tari Lajur Caping Kalo. Terinspirasi dari perjalanan bambu yang diolah hingga menjadi sebuah caping, tari ini mengangkat keterampilan menganyam ke dalam bahasa gerak. Setiap pementasan menjadi cara baru untuk mengenalkan kembali cerita yang selama ini hidup di balik kerajinan khas Kudus tersebut.

HUT Kota Kudus ke-477 yang jatuh pada 23 September 2026 kemudian menjadi momentum kolaborasi Nojorono Kudus dengan Pemerintah Kabupaten Kudus untuk menghadirkan pagelaran kolosal Tari Lajur Caping Kalo. Panggung perhelatan menyatukan 670 penari dari berbagai latar belakang, mempersembahkan sebuah perayaan budaya yang bertumbuh dari warisan lokal dan dijaga bersama oleh masyarakatnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha Djumaryo, bersama Bupati Kudus Sam'ani Intakoris dan jajaran Pemerintah Kabupaten Kudus turut hadir memberikan dukungan terhadap inisiatif pelestarian budaya ini.

Kontan - PT. NOJORONO TOBACCO INTERNATIONAL Native Online

Dimas Handoko selaku CSR Department Head PT Nojorono Tobacco International, mengatakan bahwa pelestarian budaya membutuhkan ruang agar warisan yang lahir di masa lalu tetap dapat dikenali dan dirasakan relevansinya oleh generasi saat ini.

"Warisan budaya selalu memiliki nilai yang patut dijaga. Tantangannya bagi kita adalah bagaimana caranya sehingga warisan tersebut tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat. Bagi kami, Tari Lajur Caping Kalo menjadi salah satu cara untuk merawat nilai yang diwariskan dari masa lalu sekaligus memperkenalkannya kepada generasi hari ini. Ketika keduanya dapat berjalan beriringan, budaya bukan hanya terjaga, tetapi juga terus bertumbuh seiring waktu," ujar Dimas dalam keterangan resmi.

Menurut Dimas, pagelaran kolosal ini menjadi kesempatan untuk memperluas perhatian masyarakat terhadap Caping Kalo dan cerita yang menyertainya. "Caping Kalo lahir dari keseharian masyarakat Kudus, namun menyimpan cerita, keterampilan, dan nilai budaya yang jauh lebih besar dari fungsi awalnya. Tari Lajur menjadi salah satu cara untuk menghadirkan kembali cerita tersebut dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini,” pungkasnya.

Ketika semakin banyak orang mengenal Caping Kalo, semakin besar pula peluang bagi warisan budaya ini untuk terus berkembang dan menginspirasi generasi berikutnya. Inisiatif pelestarian Caping Kalo yang dilakukan Nojorono Kudus bersama YKBN dan Pemerintah Kabupaten Kudus menjadi bentuk keberhasilan sinergi multipihak dalam melestarikan kekayaan budaya bangsa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Reporter: Native Team
Editor: Ridwal Prima Gozal

TERBARU
Terpopuler
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

×