kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.637.000   -3.000   -0,11%
  • USD/IDR 17.675   11,00   0,06%
  • IDX 6.628   -8,02   -0,12%
  • KOMPAS100 866   -1,07   -0,12%
  • LQ45 656   -1,64   -0,25%
  • ISSI 231   0,93   0,40%
  • IDX30 367   -0,96   -0,26%
  • IDXHIDIV20 453   -1,44   -0,32%
  • IDX80 99   -0,02   -0,02%
  • IDXV30 126   0,63   0,50%
  • IDXQ30 117   -0,46   -0,39%

Mengukur Laba Salon: Angka yang Tidak Terlihat di Omzet Harian


Senin, 07 September 2026 / 10:51 WIB
Mengukur Laba Salon: Angka yang Tidak Terlihat di Omzet Harian
ILUSTRASI. Kontan - Rankpillar Native Online (Dok. Kasera/Kasera)

KONTAN.CO.ID - Industri kecantikan Indonesia terus membesar. Menurut Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, seperti dilaporkan Kompas pada November 2024, pendapatan industri kecantikan mencapai 8,09 miliar dolar AS pada 2023 dan diproyeksikan menjadi 9,17 miliar dolar AS pada 2024; data Kemenperin untuk tahun yang sama menyebut 89 persen dari sekitar 1.200 pelaku industri kosmetik adalah industri kecil dan menengah. Di sisi hilir, kajian Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR pada awal 2025, mengutip Kompas, memperkirakan lebih dari 100 ribu salon beroperasi di seluruh Indonesia. Namun di balik pertumbuhan itu, banyak pemilik salon dan barbershop masih menilai kesehatan usahanya dari satu angka saja: omzet harian.

Omzet mudah dilihat dan terasa meyakinkan, terutama saat kursi penuh sepanjang akhir pekan. Persoalannya, omzet tidak bercerita tentang laba. Struktur biaya salon berbeda dari ritel: sebagian pendapatan mengalir kembali ke tim dalam bentuk komisi, lalu masih ada biaya bahan yang terpakai per layanan, sewa, gaji pokok, dan operasional harian. Dua salon dengan omzet identik bisa pulang membawa laba yang jauh berbeda — dan tanpa data yang menyatu, perbedaan itu tidak akan pernah terlihat.

Kabar baiknya, sebagian besar data untuk menjawab "dari mana laba sebenarnya datang" kini sudah berbentuk digital: transaksi tercatat lewat pembayaran nontunai, jadwal tersimpan di ponsel, skema komisi sudah disepakati. Yang kurang hanyalah penyatuannya, dan di sinilah perangkat lunak khusus salon seperti Kasera masuk: jadwal, transaksi, dan komisi berada dalam satu sistem, sehingga laporan tidak perlu lagi dirakit dari beberapa catatan di akhir bulan. Pertanyaannya kemudian: angka apa saja yang sebaiknya diperhatikan?

Sebagai ilustrasi hipotetis, bayangkan salon lima kursi dengan omzet Rp90 juta sebulan. Dengan komisi rata-rata 18 persen (Rp16,2 juta), pemakaian produk sekitar 10 persen (Rp9 juta), sewa Rp12 juta, serta gaji pokok dan biaya operasional Rp35 juta, yang tersisa sekitar Rp17,8 juta — hampir 20 persen dari omzet, sebelum pajak dan pos lain yang belum masuk ilustrasi. Geser komposisi layanannya — lebih banyak pewarnaan yang bermargin tebal, atau sebaliknya lebih banyak potong cepat bermargin tipis — dan margin itu bisa bergerak beberapa poin tanpa omzetnya berubah sedikit pun.

Dari ilustrasi itu, ada tiga angka yang jarang dihitung. Pertama, biaya komisi per layanan: skema komisi jarang seragam antarlayanan dan antarlevel stylist, sehingga penjumlahan manual di akhir bulan hampir selalu menghasilkan angka yang mendekati, bukan yang tepat. Kedua, biaya produk per layanan: pewarna dan bahan habis pakai dipakai dalam takaran berbeda-beda, dan tanpa pencatatan pemakaian biasanya baru terasa saat stok habis lebih cepat dari perkiraan. Ketiga, kontribusi laba per stylist: stylist dengan pelanggan terbanyak belum tentu penyumbang laba terbesar — stylist lain mungkin mengerjakan lebih sedikit pelanggan tetapi pada layanan bermargin lebih tinggi, atau punya tingkat pelanggan kembali yang jauh lebih baik. Untuk angka ketiga ini, laporan performa stylist di Kasera menampilkan jumlah pelanggan, pendapatan, dan komposisi layanan per anggota tim; itu angka performa, bukan laba, dan masih harus disandingkan dengan biaya komisi serta bahan untuk mendapat gambaran utuh.

Ironisnya, infrastruktur untuk mencatat semua itu sudah tersedia. Per Juni 2026, Bank Indonesia menghitung 44,86 juta merchant QRIS, dan hampir 97 persen di antaranya usaha mikro, kecil, dan menengah; data agregat itu tidak merinci berapa salon di dalamnya, tetapi salon dan barbershop jelas termasuk usaha yang transaksinya kian nontunai. Yang tertinggal adalah kebiasaan: jadwal masih di buku janji temu, komisi dihitung terpisah di akhir periode, dan pemakaian produk sering tidak tercatat sama sekali. Langkah praktisnya bisa dimulai bulan depan: tarik tiga angka tadi untuk satu bulan penuh, sandingkan dengan omzet, dan periksa apakah layanan yang paling laris memang layanan yang paling menguntungkan. Bagi usaha yang mulai tumbuh melewati satu kursi dan satu pemilik yang mengerjakan semuanya sendiri, pergeseran dari "berapa omzet hari ini" ke "dari mana laba sebenarnya datang" adalah langkah yang menentukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Reporter: Native Team
Editor: Ridwal Prima Gozal

TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

×