kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,96   1,15   0.15%
  • EMAS928.000 1,42%
  • RD.SAHAM -0.09%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Pentingnya Pemimpin yang Bisa Menulis. Ini alasannya!


Jumat, 13 Maret 2020 / 13:12 WIB
Pentingnya Pemimpin yang Bisa Menulis. Ini alasannya!

Seorang pemimpin yang baik tidak hanya yang visioner, tapi juga mampu berpikir kritis dan mengambil keputusan dengan tepat. Untuk itu, diperlukan kemampuan untuk memilah mana materi yang bisa dijadikan panduan maupun mana yang tidak.

Di hari kedua (9/3) Leadership Development Djarum Beasiswa Plus oleh Djarum Foundation, Margareta Astaman menyampaikan pentingnya critical writing bagi seorang calon pemimpin. Critical writing melibatkan fakta untuk menghasilkan keputusan yang masuk akal.

Kesalahan yang banyak dilakukan para penulis pemula dalam critical writing adalah hanya menggunakan satu sumber untuk mendukung ide mereka, atau yang lebih buruk lagi adalah tidak menggunakan sumber sama sekali alias hanya opini pribadi. Dalam critical writing, dibutuhkan lebih dari satu sudut pandang atau narasumber.

Kesalahan pemula lainnya dalam critical writing adalah menggunakan beberapa sumber namun hanya mengumpulkan kutipan-kutipan tersebut tanpa benar-benar menganalisis apa yang mereka katakan. Dalam critical writing, Anda harus mengevaluasi dan menganalisis informasi dari beberapa sumber dibanding hanya menerima hal tersebut mentah-mentah.

Karena itulah, menurut Margareta, sebelum memulai proses critical writing yang harus dikuasai terlebih dahulu adalah critical reading. “Critical reading ini sangat berguna untuk memilah konten-konten tersebut sehingga teman-teman bisa mengambil keputusan yang lebih baik,” ujar Margareta yang juga pernah berprofesi sebagai jurnalis.

Untuk mengecek sebuah konten atau berita itu merupakan fakta atau hoax, bisa menganalisisnya dengan mengajukan kelima pertanyaan mendasar berikut. Pertama, mengecek kredibilitas media yang menulis berita tersebut. Kedua, mengapa Anda bisa mendapat konten tersebut.

“Kita berada di periode post truth, artinya kita diajukan konten-konten yang sesuai preferensi kita alias yang kita suka. Dengan begitu kita menjadi subjektif karena tidak diimbangi dengan berita atau sumber lainnya. Karena itu, kita harus mencari penyeimbangnya,” ujar Margareta.

Ketiga, mengecek apakah tulisan tersebut adalah opini atau fakta. Keempat, cari tahu siapa yang menjadi narasumber di dalam tulisan tersebut. Kelima, kapan konten itu ditulis? Jangan sampai berita lama tapi dibuat seolah-olah baru saja terjadi.

“Jadikan ini sebuah kebiasaan ketika menerima sebuah konten. Karena itulah yang akan menjadikan teman-teman punya karakter seorang pemimpin yang bisa memberi keputusan dan menentukan ini baik atau tidak,” ujar Margareta.

Menulis secara Kritis

Sebelum membuat sebuah tulisan yang kritis, ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan, yakni audien, mega argumen, serta balancing point.

Critical writing itu tujuannya mengarahkan pembaca untuk mengambil keputusan. Karena itu, harus dipikirkan lagi siapa pembaca kita,” ujar Margareta yang telah menerbitkan tujuh judul buku.

Dengan mengetahui karakter calon pembaca Anda, maka Anda bisa mengarahkan isi konten yang akan ditulis, baik dari segi bahasa yang digunakan maupun dari segi preferensi pembaca.

Mega argumen atau data pendukung adalah hal penting yang membedakan tulisan provokatif dengan tulisan kritis. Sebuah tulisan kritis ditunjang dengan banyak fakta atau bahan-bahan yang cukup menunjang. “Semakin banyak bahan pendukung, akan semakin kuat tulisan dan meyakinkan pembaca bahwa ide yang dituliskan adalah yang terbaik,” ujar Margareta.

Balancing point sangat diperlukan untuk menyeimbangkan tulisan agar terasa baik dan obyektif. Salah satu caranya adalah dengan menyampaikan ide yang berseberangan atau membandingkan ide-ide yang mirip dan telah berkembang sebelumnya dan menambahkan unsur kebaruan terhadap ide tersebut.

Balancing point ini juga berarti mengakui kelemahan tulisan-tulisan kita. Ketika ada poin yang belum dibahas di tulisan kita, tidak apa-apa disampaikan agar bisa menjadi ide untuk tulisan berikutnya,” ujar Margareta.

Piramida Terbalik

Setelah ketiga hal tersebut dilakukan, langkah selanjutnya adalah menyusun semua poin-poin yang telah dikumpulkan ke dalam sebuah struktur piramida terbalik. Poin-poin tersebut disusun berdasarkan kebutuhan para pembacanya, bukan penulis. 

Di paling atas piramida adalah poin yang paling penting, sedangkan yang paling bawah adalah yang sangat tidak penting. “Bagian paling penting tersebut adalah mega argumen,” ujar Margareta.

“Bagian pertama tulisan ini menjadi sangat penting karena beberapa kata pertama menentukan nasib tulisan kita, apakah akan dibaca lebih lanjut atau tidak,” ujar Margareta. “Makanya kita meletakkan problem dan solusi di bagian ini karena paling menarik, bukannya justru pendahuluan.”

Kemudian di lapis kedua adalah argumen pendukung utama, lapis ketiga adalah argumen pendukung kedua tanpa bertentangan dengan mega argumen, dan seterusnya sampai ke bagian yang paling bawah dan bisa dihapus saja karena sifatnya yang tidak penting.

“Kalau sudah brainstorming dan structuring, 70 persen tulisan Anda sudah selesai,” ujar Margareta.

Margareta juga mengungkapkan hal-hal yang harus diwaspadai dalam membuat sebuah tulisan kritis yang jelas dan ringkas. Pertama, hindari pemakaian kata sifat dan kata umum karena Anda menggunakan medium teks yang tidak bisa share rasa yang sama dengan pembaca.

“Yang bisa dilakukan adalah mendeskripsikan sehingga pembaca bisa mendapat kesimpulan rasa yang sama dengan penulis,” ujar Margareta.

Hal yang kedua yang harus diwaspadai adalah penggunaan jargon atau kata-kata yang tidak umum. “Karena tujuan kita menulis kritis adalah meyakinkan pembaca. Kalau menggunakan kata-kata yang susah, maka mereka akan mereka akan malas membaca,” ujar Margareta.

Ketiga, hindari penggunaan kata-kata pasif atau tidak langsung. Akan lebih baik apabila tulisan tersebut menggunakan kalimat aktif dan tidak berputar-putar.

Terakhir, buatlah judul tulisan yang KISS, yakni Keep It Simple and Smart. Umumnya judul tulisan panjangnya hanya 5-7 kata. “Buatlah judul belakangan setelah semuanya tulisan selesai, dan jangan sampai ada jargon di judul,” tutup Margareta.


Reporter: Tim KONTAN
Editor: indah sulistyorini
Tag

TERBARU
Terpopuler

×