KONTAN.CO.ID - Rapat Kerja Pemerintah (RKP) di Istana Negara, menjadi tonggak penting dalam membaca ulang peta jalan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto yang sudah digagas selama bertahun-tahun.
Di hadapan jajaran Kabinet Merah Putih, eselon I, dan para pimpinan BUMN, Presiden memaparkan evaluasi satu setengah tahun kepemimpinan sekaligus menetapkan kompas baru melalui serangkaian program prioritas nasional konkret.
Rapat kerja menjadi mandat operasional untuk mengubah filosofi bernegara menjadi aksi terukur secara matematis. Fokus utamanya tentang kedaulatan hukum, kemandirian energi dan pangan, serta efisiensi birokrasi lebih radikal.
Supremasi Hukum dan Konstitusi
Presiden membuka rapat dengan landasan filosofis tajam. Baginya, kedaulatan negara harga mati, hanya bisa ditegakkan melalui supremasi hukum dan konstitusi. Memang ada risiko terjatuh ke dalam "hukum rimba" jika kesepakatan nasional diabaikan.
Penegasan ini menjadi penting sebagai jaminan stabilitas di tengah upaya pemerintah mengejar target-target pembangunan ambisius untuk kesejahteraan rakyat.
Konsensus besar seperti Sumpah Pemuda 1928 dan UUD 1945 menjadi jangkar untuk mencegah bangsa ini terpecah-pecah dalam kotak-kotak sektoral. Bagi Presiden, demokrasi adalah kedaulatan rakyat, akan tetapi kedaulatan harus berjalan dalam rel hukum secara konsisten.
Pergantian kepemimpinan dalam sejarah Indonesia, mulai dari Bung Karno hingga Gus Dur, membuktikan sistem demokrasi saat ini mampu berjalan secara damai tanpa kekerasan, jika percaya pada konstitusi.
Ketahanan Pangan, Air, dan Energi (PAE)
Mengadopsi visi global Sustainable Development Goals (SDGs), Presiden menetapkan tiga isu dasar sebagai keselamatan bangsa.
Yaitu pangan, energi, dan air. Indonesia memiliki berkah sumber daya melimpah, tetapi kerap gagal dalam pengelolaan karena kurangnya kewaspadaan.
"Satu hari air turun di Bogor sama dengan satu tahun air di Australia Barat,"
Terminologi Presiden cermin betapa besarnya potensi air kita. Karena itu prioritas nasional memastikan distribusi air dan pelestarian hutan jangan sampai justru menimbulkan bencana kekeringan.
Sementara banyak negara kaya minyak namun menderita karena tidak memiliki air. Indonesia tidak boleh membuang karunia ini dengan membabat hutan secara liar dan menimbulkan petaka yang bersumber dari air.
Di bagian lain, ketergantungan pada Selat Hormuz di tengah konflik Timur Tengah menjadi alarm bagi Indonesia. Presiden memerintahkan percepatan energi terbarukan yang bersumber dari dalam negeri. Targetnya jelas: dalam 2-3 tahun, Indonesia harus mampu memproduksi solar dan bensin dari batubara, singkong, hingga jagung
Salah satu instruksi paling tajam dalam rapat kerja tersebut, perintah pembersihan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang bermasalah. Presiden menemukan bukti adanya ratusan tambang beroperasi tanpa kejelasan di kawasan hutan lindung.
Diberikan tenggat waktu satu minggu kepada Menteri ESDM dan Menteri Kehutanan untuk melakukan evaluasi total dan mencabut IUP yang melanggar aturan. Ini merupakan sikap tegas demi kepentingan nasional dan rakyat.
Tindakan ini merupakan langkah konkret, memastikan kekayaan alam dikuasai negara sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945. 
Navigasi Teknologi dan Ancaman Disinformasi
Di era digital, tantangan baru berupa "Echo Chamber" dan serangan informasi berbasis AI. Bagaimana teknologi bisa membuat dirinya seolah bernyanyi dengan suara bagus atau berpidato dalam bahasa Mandarin dan Arab.
Meskipun kadang menguntungkan secara citra, tetapi rekayasa seperti itu dapat mengarah pada fitnah dan hoaks yang bertujuan merusak stabilitas negara.
Pemanfaatan teknologik secara bijak menjadi kunci stabilitas nasional. Sebaliknya, infiltrasi disinformasi dapat memicu disintegrasi dan melumpuhkan persatuan, menghambat inovasi, serta menguras energi bangsa dalam konflik internal dan merugikan visi besar kemajuan masa depan bangsa
Haji dan Kesejahteraan Rakyat
Rapat kerja ini melahirkan beberapa program prioritas lebih berdampak pada masyarakat:
Soal “Efisiensi Biaya Haji 2026” Meskipun harga avtur dunia naik, pemerintah berkomitmen menurunkan biaya haji sebesar Rp2 juta per Mjemaah.
Langkah ini didukung dengan rencana pembentukan joint venture antara Garuda Indonesia dan Saudi Air guna menekan biaya operasional pesawat saat kosong ketika kembali ke tanah air.
Prioritas lain tentang “Lahan Haji di Mekah”. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia memiliki lahan seluas 45 hektar di Mekah untuk membangun kompleks perumahan haji sendiri (perkampungan haji). Presiden juga mengupayakan terminal khusus jemaah Indonesia di Arab Saudi untuk memangkas waktu antrian.
Soal ‘Pengelolaan Sampah Nasional” tidak luput dari perhatian Presiden. Melalui Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains, agar diterapkan teknologi pembersihan sampah dengan mesin buatan lokal yang murah namun efektif. Targetnya, dalam 2-3 tahun, seluruh kota di Indonesia harus bersih dari bau sampah.
Prioritas tentang “1.000 Desa Nelayan”, sebagai bagian dari penguatan ekonomi pesisir, Presiden menargetkan pembangunan 1.000 desa nelayan yang akan rampung pada Desember 2026.
Menuju Pemerintahan “Seamless”
Masalah kronis birokrasi Indonesia adalah ego sektoral. Presiden Prabowo meminta agar seluruh kementerian dan lembaga bekerja secara integralistik atau seamless.
Keberhasilan pemerintah selama lebih 1,5 tahun terakhir dalam menavigasi krisis global membuktikan kabinet yang efektif, dalam kerja sama yang harus ditingkatkan.
Sebab setiap sen anggaran harus diawasi agar tidak terjadi kebocoran atau korupsi.
Krisis global tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan peluang untuk memaksa birokrasi bekerja lebih efisien. Beliau meminta agar subsidi BBM tetap tepat sasaran untuk 80% rakyat kecil, sementara orang kaya harus membayar harga pasar.
Di tengah situasi dunia penuh peperangan, Indonesia harus menjadi titik terang. Posisi strategis di Selat Malaka, Sunda, dan Makassar menjadikan Indonesia sebagai pusat perhatian dunia.
Rencana pembentukan Special Financial Center di Bali menunjukkan bahwa Indonesia siap menjadi tempat aman bagi modal global, menghindari zona konflik.
Rapat Kerja Pemerintah menjadi pernyataan sikap bahwa pemerintah tidak akan "santai-santai". Fokus pada hukum, konsensus terhadap program prioritas yang terukur sebagai cara Indonesia menghadapi 12 bulan kritis ke depan.
Publik tentu saja menunggu pembuktian dari setiap instruksi, terutama dalam penegakan hukum izin tambang dan realisasi penurunan biaya hidup rakyat.
Negara telah menunjukkan arahnya, sekarang saatnya birokrasi membuktikan loyalitasnya pada hasil nyata, bukan hanya dalam tataran prosedur administratif.
Artikel ini ditulis oleh Eko Wahyuanto, Pengamat Kebijakan Publik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Editor: Indah Sulistyorini













