kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.160   7,00   0,04%
  • IDX 4.963   -133,77   -2,62%
  • KOMPAS100 638   -18,80   -2,86%
  • LQ45 505   -12,97   -2,50%
  • ISSI 165   -4,78   -2,81%
  • IDX30 284   -7,46   -2,56%
  • IDXHIDIV20 382   -9,56   -2,44%
  • IDX80 74   -2,11   -2,78%
  • IDXV30 106   -2,70   -2,48%
  • IDXQ30 95   -2,41   -2,48%

BPS Catat Inflasi Tahunan Oktober 2026 Terkendali di Level 3,23%


Selasa, 03 November 2026 / 11:13 WIB
BPS Catat Inflasi Tahunan Oktober 2026 Terkendali di Level 3,23%
ILUSTRASI. Kontan - BPS Kilas Online (Kontan. BPS/Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti)

KONTAN.CO.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi terbaru periode Oktober 2026 sebesar 3,23 persen secara tahunan (y-on-y).  Angka tersebut menunjukkan bahwa inflasi nasional masih terkendali pada rentang target pemerintah.

Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa inflasi tahunan Oktober 2026 utamanya didorong oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau; transportasi; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.

"Inflasi tahunan pada Oktober 2026 sebesar 3,23 persen masih terkendali dan berada pada rentang target pemerintah. Penyumbang andil inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,40 persen; diikuti kelompok transportasi sebesar 0,59 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,32 persen," jelas Amalia di Jakarta, Senin (2/11).

Lebih lanjut, Amalia menjelaskan bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas menjadi pendorong inflasi secara tahunan, diantaranya bensin, cabai rawit, ikan segar, emas perhiasan, beras, minyak goreng, tarif angkutan udara, daging ayam ras, Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan nasi dengan lauk. Sementara itu, komoditas yang menjadi peredam inflasi yaitu telur ayam ras, bawang merah, kelapa, dan kentang.

Dari sisi wilayah, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi secara tahunan pada Oktober 2026. Sulawesi Utara mencatat inflasi tertinggi sebesar 8,07 persen, sedangkan DKI Jakarta mencatat inflasi terendah sebesar 2,52 persen. Dari 38 provinsi, sebanyak 26 provinsi mengalami inflasi di atas angka nasional, sementara 12 provinsi lainnya berada di bawah angka nasional.

Menurut Amalia, perbedaan tingkat inflasi antardaerah perlu dipahami dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing.

"Perkembangan inflasi di setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga faktor pendorongnya pun tidak selalu sama. Sebagai contoh, di Sulawesi Utara, yang mencatat inflasi tertinggi sebesar 8,07 persen, kenaikan harga terutama didorong oleh cabai rawit, ikan segar, dan tarif angkutan udara. Sementara itu, di Papua Barat, inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan tarif angkutan udara, bensin, dan cabai rawit. Berbeda dengan kedua daerah tersebut, di Kalimantan Tengah, tarif angkutan udara justru mengalami deflasi atau penurunan harga. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika harga komoditas di setiap daerah dapat berbeda-beda," jelas Amalia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Reporter: Native Team
Editor: Ridwal Prima Gozal
Tag

TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

×