KONTAN.CO.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia pada September 2026 mencapai US$26,64 miliar. Nilai tersebut meningkat 12,39 persen dibandingkan September 2025 (y-on-y). Kenaikan ini terutama didorong oleh kinerja sektor industri pengolahan yang tumbuh 16,78 persen.
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa industri pengolahan menjadi penopang utama peningkatan ekspor nonmigas pada September 2026. Nilai ekspor sektor ini mencapai US$23,27 miliar, meningkat dibandingkan September 2025 yang sebesar US$19,93 miliar.
“Peningkatan ekspor nonmigas pada September 2026 terutama didorong oleh sektor industri pengolahan. Nilai ekspor sektor ini tumbuh 16,78 persen dibandingkan September tahun lalu. Kenaikan tersebut memberikan andil kenaikan sebesar 13,56 persen terhadap kenaikan total ekspor,” jelas Amalia.
Ia menjelaskan sejumlah komoditas industri pengolahan mencatat kenaikan nilai ekspor yang cukup besar.
“Beberapa komoditas mencatat pertumbuhan yang impresif. Ekspor minyak kelapa sawit pada September 2026 mencapai US$3,82 miliar, meningkat 110,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor tembaga naik 184,98 persen menjadi US$606,37 juta, sedangkan produk olahan nikel meningkat 32,98 persen menjadi US$1,15 miliar,” rincinya.
Kenaikan juga terjadi pada sejumlah komoditas lainnya, antara lain aluminium, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, serta kimia dasar anorganik lainnya. Secara kumulatif, sepanjang Januari–September 2026, ekspor industri pengolahan tumbuh 8,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia. Sepanjang Januari–September 2026, ekspor nonmigas ke Tiongkok mencapai US$54,17 miliar. Berikutnya, ekspor ke Amerika Serikat tercatat US$25,39 miliar dan ke India sebesar US$15,00 miliar.
Secara khusus, BPS mencatat ekspor nonmigas ke India pada September 2026 mencapai US$2,23 miliar, meningkat 55,65 persen dibandingkan September 2025. Kenaikan ini terutama ditopang oleh ekspor lemak dan minyak hewani/nabati.
Nilai ekspor lemak dan minyak hewani/nabati ke India meningkat dari US$112,41 juta pada September 2025 menjadi US$629,92 juta pada September 2026, atau tumbuh 460,36 persen. Selanjutnya, ekspor bahan bakar mineral meningkat dari US$431,55 juta menjadi US$631,23 juta, sedangkan ekspor mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya meningkat 350,97 persen menjadi US$184,00 juta. Ekspor besi dan baja juga naik hingga 72,32 persen menjadi US$231,88 juta.
“Peningkatan ekspor ke India terutama didorong oleh kenaikan ekspor lemak dan minyak hewani/nabati. Selain itu, ekspor bahan bakar mineral, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, serta besi dan baja juga mencatatkan peningkatan yang sangat tinggi,” jelas Amalia.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–September 2026 mencapai US$221,23 miliar, meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 18,42 persen, serta sektor pertambangan dan lainnya turun 5,46 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Editor: Ridwal Prima Gozal














